Rabu, 23 November 2011

Sekulerisasi Sistem Pendidikan Islam


Sekulerisasi Sistem Pendidikan Islam
PDF
Cetak


Berbicara masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya, Karena Kebutuhan akan Pendidikan sama halnya dengan kebutuhan mendasar yang mutlak harus dipenuhi oleh setiap individu. Hanya saja, kenyataanya sekarang ini dunia pendidikan semakin membuat miris dan prihatin, karena ternyata potret dunia pendidikan yang ada sangat jauh dari yang diharapkan. Paling tidak, ada beberapa hal yang menjadi permasalahan utama pendidikan, di antaranya yaitu paradigma pendidikan nasional yang sekularistik,

Tak bisa dipungkiri bahwa paradigma dunia pendidikan saat ini tidak lepas dari asas sekularisme, yang telah meniadakan keberadaan agama untuk mengatur kehidupan. Bahkan sangat jauh dari sistem pendidikan yang bernilai islami. Agama (Islam) telah dipandang hanya sebatas untuk mengatur ibadah ritual semata.

Diakui atau tidak, Sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekular-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai agama pada semua proses pendidikan.

Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain.

Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual.

Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga. Sementara dalam mengatur kehidupan berekonomi, politik, termasuk dalam bidang pendidikan dan lain sebagainya, agama tak diberikan ruang untuk mengaturnya. Akibatnya, segala peraturan yang dibuat untuk mengatur kehidupan ini, semuanya berasas pada aturan hasil buatan manusia yang jauh dari tuntunan Ilahi.

Bukti nyata tentang sekulernya dunia pendidikan ini bisa dilihat dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15.Bunyinya, “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus”. Dalam pasal ini terlihat jelas adanya pen-dikotomi-an pendidikan antara pendidikan agama dan pendidikan umum.

Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa agama ditempatkan sebagai mata pelajaran paling minimal untuk dipelajari dengan pembagian waktu yang sangat tidak proposional dan juga tidak dijadikan asas bagi bidang pelajaran yang lainnya.

Ironisnya lagi, pada beberapa fakultas di sejumlah perguruan tinggi saat ini mata kuliah agama diberikan maksimal hanya dua SKS dalam satu semester selama rentang waktu belajar beberapa tahun di kampus, itupun kalau masih diajarkan, Bahkan tidak hanya di fakultas saja, Di sekolah juga seperti itu siswa hanya mendapatkan dua, bahkan ada yang hanya satu jam pelajaran saja dalam satu minggu.

Dan kurikulum yang sebelumnya memuat mata pelajaran agama sebagai mata pelajaran yang utama, sekarang malah dihilangkan, yang tinggal hanyalah mata pelajaran yang memang diganti untuk mensekulerisasikan pendidikan seperti Matematika, Bahasa Inggris dan sains, Akibatnya mahasiswa hanya cerdas dalam intelektual tapi haus akan spiritual.

Bisa dipastikan, kondisi ini tentu tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan baik bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dilematisnya kurikulum ini sendiri tentu saja bermula dari asas pendidikan sekuler tadi, yang pasti mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan tsaqafah (pengetahuan) Islam dan pembentukan Syakhsiyyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang tangguh kepada peserta didik.

Di satu sisi, paradigma pendidikan sekuler ini memang berhasil melahirkan manusia-manusia “super” dalam hal penguasaan sainstek melalui sederet pendidikan umum yang telah diikuti. Namun, pada sisi yang lain, keberadaan sistem pendidikan ini ternyata sudah terbukti gagal membangun kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqafah (pengetahuan) Islam. Bukti atas hal ini, suatu hal yang tidak bisa dirahasiakan bahwa ternyata, secara umum sangat banyak lulusan pendidikan umum (terkhusus yang beragama Islam) yang buta agama.

Begitu pun dengan kepribadiannya, juga sangat jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan cenderung dibarengi dengan kerendahan akhlak. Berbagai contoh yang bisa kita ambil adalah seperti maraknya penyalahgunaan narkoba pada kalangan siswa/mahasiswa, seks bebas, tawuran, dan sebagainya. Sebaliknya, juga terjadi pada mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama.

Berbagai permasalahan pendidikan yang telah diuraikan atas, menuntut adanya penyelesaian yang dilakukan sesegera mungkin. Namun demikian, penyelesaian itu takkan cukup jika hanya dilakukan dengan sekadar mengganti struktur, prosedur penerimaan siswa/mahasiswa.

Lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah solusi yang fundamental; yakni dengan mengubah paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma pendidikan Islam, dimana yang menjadi pondasi dari pendidikan ini adalah aqidah Islamiyah, yang tidak mengenal adanya dikotomi pendidikan umum dan agama.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan