Selasa, 08 November 2011

RESIKO DAKWAH DI ZAMAN GLOBALISASI


RESIKO DAKWAH DI ZAMAN GLOBALISASI
  1. Pengertian Dakwah, Globalisasi dan Problematika
  1. Pengertian dakwah
Secara harfiah dakwah merupakan masdar dari fi’il ( kata kerja ) da’a, yad’u, da’watan yang berarti mengajak, meyeru, memanggil, dan mengundang. Dalam kajian ini, wacana dibatasi pada makna dakwah yang berkaitan dengan tugas nabi Muhammad sebagai da’i atau sahib al- dakwah. 1
Dakwah merupakan penyiaran, penyeruan agama dan pengembangannya dikalangan masyarakat. 2
  1. Pengertian globalisasi

Kata globalisasi diambil dari kata global yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi atau pengertian yang pasti kecuali sekedar definisi kerja sehingga maknanya tergantung pada sudut pandang orang yang melihatnya.
  1. Pengertian probelatika
Problematika berasal dari kata problem yang artinya soal, masalah, perkara sulit, persoalan. Problematika sendiri secara leksikal mempunyai arti: berbagai problem.Untuk jadi pengemban dakwah cukup bermodalkan keimanan, ilmu, dan kemauan.
Allah swt. berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah?” (QS Fushhilat [41]: 33)
Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum buat siapa Saja yang menyeru manusia ke jalan Allah (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi). menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya.
Para shahabat Rasulullah begitu kuat dan pantang menyerah dalam berdakwah. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga bahkan nyawa pun rela beliau korbankan untuk mendapatkan pahala Allah yang melimpah dalam aktivitas dakwah.
Dan para da’i juga bisa seperti para shahabat. Walau tidak hidup di zaman Rasulullah, tapi warisan beliau yang berupa al-Quran dan as-Sunnah sampai sekarang masih terjaga kemurniannya.
  1. CIRI-CIRI DA’IYANG MEMILIKI HIKMAH


Karena hikmah dapat diperoleh melalui dua jalan, yaitu hikmah yang merupakan anugrah dan karunia Allah SWT kepada hamba-Nya yang dikehendaki, dan hikmah yangdiperoleh manusia karena kesungghuhan untuk memperolehnya, lalu apakah yang menjadi cirri-ciri bahwa seseorang mamiliki hikmah, baik nazari maupun ‘aqmali.
Beberapa cirri-ciri yang dapat diketahui bahwa seseorang memiliki hikmah adalah sebagai berikut :
  1. Memiliki perilaku yang bijak


Berdasarkan kajian terhadap literature-literatur berdasarkan Bahasa arab, perilaku merupakanbagian dari pembahasan suluk yang merupakan masdar dari salaka yang artinya menapaki jalan atau merambah jalan.
Secara teoritis, Akhlaq adalah suatu pengetahuan yang obyek pembahasannya mengenai kaidah-kaidah nilai yang berhubungan dengan baik atau buruk.Perbuatan baik dan buruk ini biasa terjadi karenaq dua hal; Pertama, karena sudah menjadi karakteristik manusia;Kedua,Karena kebiasaan.
  1. Memiliki sifat jujur dan ikhlas


Kaum bijak yang dikaruniakan Allah hikmah member pesan-pesan dasar untuk memperoleh dasar-dasar hikmah yang jika seseorang mengamalkannya dengan jujur dan ikhlas akan diberi taufiq oleh Allah.
Sebagaimana contoh pesan Lukman Hakim adalah sebagai berikut:
Dan sederhanakanlah kau dalam berjalan, dan lunakkan Suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suaqra adalah suara keledai.”


Itulah nasehat Luqman untuk puteranya. Suatu nasehat yang tidak tercela.Ia telah diberi hikmah,Karena itu ia sangat beruntung.Tiap butir nasehat dan pesan Luqman trsebut selalu dikaitkan dengan ajakan(perintah)meskipun pahit dan meninggalkan apa yang dilarang.


  1. Bersikap dan berperilaku Istiqamah


Ciri da’I yang hikmah selain dua hal di atas, juga harus Istiqamah Pengertian Istiqamah meliputi pelaksanaan Al-din secara total.Firman Allah dalam surat Al-Fussilat: 30
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka,(Dengan mengatakan) janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu (dengan memperoleh)surge yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”
  1. Memiliki pengalaman


Pengalaman (Tajribah) mempunyai pengaruh pentingdalam meraih kemahiran.Ia juga merupakan factor terpenting dalam meraih hikmah. Namun demikian ia tidak dapat menjamin meraih hikmah yang secara hakiki merupakan karunia Allah semata yang diberikaqn kepada hamba dikehendakinya.Firman Allah:
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya…(QS.Al-Nahl).
Pengalaman dalam ilmu merupakan ujian rutin bagi salah satu atau banyak gejala yang hendak diamati secara cermat dengan tujuan menemukan suatu hasil atau untuk mewujudkan keinginan. Masalah penting yang diambil dari pengalaman adalah menemukan kekurangan pada sesuatu lalu memperbaikinya.
C. PERMASALAHAN DALAM DAKWAH
Risiko dakwah tentu adalah sunnatullah atau wajar terjadi. Karena, yang kita dakwahkan ajaran Islam. Sementara obyek dakwah kita yang di rumah, sekolah, kampus, atau tempat kerja semuanya sudah terlanjur diselimuti aturan sekuler atau pemikiran yang ’sesat’ yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam.
Kita bisa contoh 75 orang muslim dari suku Khajraj saat terjadi peristiwa Bai’atul Aqabah kedua. Saat itu salah seorang paman Nabi yang melindungi dakwah beliau meski bukan muslim,yang bernama ‘Abbas bin Ubadah, mengingatkan kaum muslim dari Khajraj itu akan risiko dakwah yang akan dihadapi jika tetap membai’at Nabi.
Kaum itu pun menjawab, “Sesungguhnya kami akan mengambilnya (membai’at Nabi saw) meski dengan risiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya banyak tokoh.” Kemudian mereka berpaling pada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami memenuhi (seruan)mu, maka apa balasannya bagi kami?” “Surga”, jawab beliau dengan tenang. (Negara Islam, Taqqiyuddin an-Nabhani)
Ternyata risiko dalam dakwah adalah jalan menuju surga Allah yang selama ini kita rindukan. Seberat apapun jalan itu, kita hanya perlu bersabar dan tetap istiqomah.
D. DAKWAH ISLAM IDEOLOGIS
Kita berdakwah dengan menuju syariat Islam, karena begitu luas dan mencakup solusi dalam permasalahan pemerintahan,yaitu: ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dll.
Karena itu kita wajib memahami dan mendakwahkan Islam sebagai Nidzhomul hayah atau aturan hidup yang tidak hanya mengatur ibadah atau akhlak semata. Islam yang memiliki peran sebagai qaidah fikriyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Sebagai qaidah fikriyah, Islam akan menjadi filter atau saringan sekaligus tameng menghadapi serangan pemikiran dan budaya Barat sekuler. Dan sebagai qiyadah fikriyah, Islam akan membimbing kita dalam menyelesaikan dan mencegah terulangnya setiap masalah hidup yang ada pada kita dengan tuntas dan berpahala.


F. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMCAHKAN MASALAH
Pertama, perlu ada pengkaderan yang serius untuk memproduksi juru-juru dakwah dengan pembagian kerja yang rapi. Ilmu tabligh belaka tidak cukup untuk mendukung proses dakwah, melainkan diperlukan pula berbagai penguasaan dalam ilmu-ilmu teknologi informasi yang paling mutakhir.
Kedua, setiap organisasi Islam yang berminat dalam tugas-tugas dakwah perlu membangun laboratorium dakwah. Dari hasil “Labda” ini akan dapat diketahui masalah-masalah riil di lapangan, agar jelas apa yang akan dilakukan.
Ketiga, proses dakwah tidak boleh lagi terbatas pada dakwah bil-lisan, tapi harus diperluas dengan dakwah bil-hal, bil-kitaabah (lewat tulisan), bil-hikmah (dalam arti politik), bil-iqtishadiyah (ekonomi), dan sebagainya. Yang jelas, actions, speak louder than word.
Keempat, media massa cetak dan terutama media elektronik harus dipikirkan sekarang juga. Media elektronik yang dapat menjadi wahana atau sarana dakwah perlu dimiliki oleh umat Islam. Bila udara Indonesia di masa depan dipenuhi oleh pesan-pesan agama lain dan sepi dari pesan-pesan Islami, maka sudah tentu keadaan seperti ini tidak menguntungkan bagi peningkatan dakwah Islam di tanah air.
Kelima, merebut remaja Indonesia adalah tugas dakwah Islam jangka panjang. Anak-anak dan para remaja kita adalah aset yang tak ternilai. Mereka wajib kita selamatkan dari pengikisan aqidah yang terjadi akibat ‘invasi’ nilai-nilai non islami ke dalam jantung berbagai komunitas Islam di Indonesia. Bila anak-anak dan remaja kita memiliki benteng tangguh (al-hususn al-hamidiyyah) dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insya Allah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Menyimak uraian-uraian di atas, dapat diprediksi bahwa misi dan tantangan dakwah tidaklah pernah akan semakin ringan, melainkan akan semakin berat dan hebat bahkan semakin kompleks dan melelehkan. Inilah problematika dakwah kita masa kini. Oleh sebab itu semuanya harus dimenej kembali dengan manajemen dakwah yang profesional dan dihendel oleh tenaga-tenaga berdedikasi tinggi, mau berkorban dan ikhlas beramal.
Dakwah dalam prakteknya, merupakan kegiatan untuk mentransformasikan nilai-nilai agama yang mempunyai arti penting dan berperan langsung dalam pembentukan persepsi umat tentang berbagai nilai kehidupan. Dalam Islam, pada dasarnya setiap muslim berkewajiban untuk melaksanakan tugas dakwah, baik secara individu maupun secara institusi, karena secara substansial dakwah bertujuan untuk melanjutkan risalah Islamiyah.
Dan pada saat ini, bisa dikatakan sebagian besar umat Islam masih berada dibawah garis kemiskinan dan kesejahteraan. Di lain pihak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi melaju pesat. Mengamati banyaknya problematika umat dewasa ini, menuntut kehadiran dakwah lebih luas dan holistik.
Menata Dakwah Yang Holistik Dalam Menjawab Problematika Umat
Dapat dikatakan bahwa kegiatan dakwah yang dilakukan dewasa ini, pada umumnya barulah pada tahap menyeru umat agar berbuat baik, beribadah dan membangun keshalehan pribadi. Tetapi seberapa intensifkah kita sebagai para pendakwah berbicara tentang realitas sosial, tantangan abad informasi, ancaman kultural dan berbagai problema ekonomi yang menghadap umat?
Persoalan ini menjadi sangat penting dan mendesak untuk diperhatikan, karena dalam abad informasi ini berbagai model kultural dan gaya hidup yang tidak selalu sesuai bahkan bertentangan, bisa dengan mudah mendikte kesadaran umat Islam, melalui berbagai media, terutama TV. Bila sebuah produk dijual melalui iklan, misalnya bir, sabun mandi maupun lipstik, itu bukan hanya menjual produk, tetapi juga menjual budaya dan pola hidup baru. .
Lain halnya lagi dengan persoalan pendidikan umat yang kurang menunjukkan grafik yang menggembirakan. Padahal sebenarnya, musuh utama umat Islam yang paling mendasar adalah kejahilan (kebodohan) dan kedzaliman. Maka tidak salah, jika dipetakan bahwa agenda permasalahan umat yang paling mendasar adalah (tarbiyah) mendidik umat Islam dengan baik.
Di mana ada empat kelompok dalam masyarakat, yakni orang tua, dewasa, pemuda dan anak-anak. Dakwah Islam harus mampu mentarbiyahkan keempat kelompok masyarakat tersebut, dengan stressing pembinaan generasi muda dan anak-anak sebagai penentu peradaban masa mendatang.
Kemudian, persoalan mendasar yang tidak kalah penting sebagaimana disebutkan adalah masalah ekonomi. Karena sekarang ini tidak bisa dielakkan adanya ekonomisasi dunia. Semua serba memakai ukuran ekonomi. Dan tampaknya, kalau umat Islam tidak terlibat, kita akan ketinggalan dan akan menjadi pemain pinggiran. Untuk itu sangat dibutuhkan kesadaran kultural umat Islam untuk saling bahu-membahu dalam rangka membangun kesejahteraan kaum muslimin.
Dengan demikian, dakwah haruslah mencakup semua dimensi manusia dan mampu menawarkan konsep islami pada semua aspek kehidupan yang dimaksud, meliputi dialog informasi dan pengetahuan, dialog ekonomi, dialog kultural dan dialog konsep untuk menjawab problematika umat. Maka untuk itu, setiap umat Islam yang memiliki akses dakwah, setidaknya dituntut melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Melakukan reintrepretasi ajaran-ajaran agama guna menkostektualisasikan dengan kebutuhan-kebutuhan riil masyarakat kita.
(2) Mengelola lembaga-lembaga atau institusi keagamaan Islam secara lebih profesional dengan memperhatikan problematika dan psikologi umat.
(3) Memperkenalkan Islam pada masyarakat secara lebih dinamis melalui berbagai metode, khususnya dengan penggunaan media yang memungkinkan secara arif dan persuassif, bukan hanya memadakan ceramah dan khutbah di masjid.
Dakwah secara holistik bukan hanya amar ma'ruf tetapi juga harus nahi munkar, dalam pengertian yang lebih luas, kita hendaknya harus menyatu dengan masyarakat, sehingga tahu benar apa yang menjadi persoalan yang dihadapinya. Dalam dakwah diperlukan asa kontinuisitas, sehingga dapat menjaga keberlangsungan dalam upaya mencapai tujuannya. Menyadarkan umat saja tidak cukup, yang penting justru menyelesaikan problem yang dihadapi secara konkret dan tuntas.
Oleh karenanya, aktivitas dakwah yang kita lakukan sebaiknya tertata secara utuh, di dalamnya harus memilik sistem yang komprehensif. Karena Islam diturunkan Allah Swt., merupakan agama universal dan eternal, di mana nilai-nilai dan norma hidup yang dikandungnya tidak akan pernah mengalami sebuah fase usang..
Pada dasarnya, problematika umat juga merupakan problematika dakwah, karena yang menjadi objek dakwah adalah umat itu sendiri. Sesuai dengan tujuannya, Islam hadir sebagai "rahmatan lil alamin" serta Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, maka ini menjadi tolak ukur, bahwa Islam adalah agama yang akomodatif dalam menyelesaikan persoalan umat. Untuk itu, sangat diperlukan aktivitas dakwah secara holistik tadi, dalam rangka menjawab persoalan umat itu dengan nilai-nilai dan konsep Islam.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan