Rabu, 23 November 2011

Pendidikan Kemauan


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pendidikan di Negara kita saat ini mengalami perubahan yang lebih baik dibandingkan pada kepemimpinan yang sebelumnya. Segala upaya dilakukan pemerintah demi menciptakan pendidikan Indonesia yang maju dan dapat bersaing dengan Negara-negara maju lainnya.
Agar pencapaian pendidikan berhasil, banyak sekali faktor yang memperngaruhi dalam proses pendidikan. Dan faktor yang utama ialah dari peserta didik sendiri. Apapun usaha pemerintah ataupun orang tua untuk mencapai keberhasilan, jika dalam hati peserta didik sendiri tidak memiliki keinginan atau kemauan yang kuat untuk berhasil maka akan sia-sia usaha yang telah diupayakan pemerintah , guru dan orang tua.
Dari latar belakang permasalahan di atas, maka disini pemakalah akan membahas mengenai beberapa unsur penting dari pengertian pendidikan kemauan, jenis pendidikan kemauan beserta hadits yang membahas tentang pendidikan kemaun.
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pendidikan Kemauan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[1] Pendidikan lebih daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.
Sedangkan pengertian kemauan sendiri itu sangatlah luas dalam mencakup segi pendidikan. Kemauan merupakan salah satu fungsi hidup kejiwaan manusia, dapat diartikan sebagai aktifitas psikis yang mengandung usaha aktif dan berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan. Tujuan adalah titik akhir dari gerakan yang menuju pada sesuatu arah. Adapun tujuan kemampuan adalah pelaksanaan suatu tujuan-tujuan yang harus diartikan dalam suatu hubungan. Misalnya, seseorang yang memiliki suatu benda, maka tujuannya bukan pada bendanya, akan tetapi pada mempunyai benda itu”, yaitu berada dalam relasi (hubungan), milik atas benda itu. Seseorang yang mempunyai tujuan untuk menjadi sarjana, dengan dasar kemauan, ia belajar dengan tekun, walaupun mungkin juga sambil bekerja. Dalam istilah sehari-hari, kemauan dapat disamakan dengan kehendak dan hasrat. Kehendak ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu yang  merupakan kekuatan dari dalam dan tampak dari luar sebagai gerak-gerik.[2]
Dalam pengertian lain dicontohkan bahwa kemauan dari segi agama ialah sebuah niat atau keinginan yang bersumber dari hati untuk melakukan sesuatu dengan setulus hati tanpa ada paksaan. Dalam pengaplikasian sehari-hari kita bisa mengambil contoh anak yang belum baligh berpuasa. Seorang anak yang dilatih puasa oleh orang tuanya walaupun hanya setengah hari (buka saat dzuhur), ini berarti puasa bukan hanya amalan menahan atau mengendalikan diri dari lapar, dahaga, dan kebutuhan seksual, tetapi juga berisi pendidikan kemauan kepada anak-anak. Dengan harapkan dikemudian hari anak dituntut berpuasa satu hari penuh dengan memberi imbalan atau hadih untuk memberikan motivasi kepada anak. Jika telah baligh nanti maka anak tersebut akan terlatih untuk berpuasa. Inilah maksud dari pendidikan kemauan bagi anak, yaitu memberikan pengajaran serta memberi sebuah motivasi kepada anak-anak.
Menurut Fyans dan Maes dalam bukunya Mustaqim, bahwasannya faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah latar belakang keluarga, kondisi sekolah, dan motivasi.[3]
Dari beberapa pengertian pendidikan dan kemauan di atas, pemakalah dapat menyimpulkan pengertina pendidikan kemauan ialah usaha untuk memperoleh pengetahuan suatu ilmu berdasarkan keinginan serta niat dari dalam diri seseorang dibantu dorongan motivasi dari beberapa pihak.

B.     Gejala-gejala Kemauan
Untuk mempermudah mempelajarinya maka gejala kemauan dibagi atas; Dorongan, Keinginan, Hasrat, Kecenderungan  dan Hawa Nafsu.[4]
1. Dorongan
Dorongan ialah suatu kekuatan dari dalam yang mempunyai tujuan tertentu dan berlangsung di luar kesadaran manusia. Dorongan ini dibedakan menjadi 2 golongan yakni  :
a.       Dorongan Nafsu  :
·         Dorongan nafsu makan.
·         Dorongan nafsu seksual.
·         Dorongan nafsu social.
·         Dorongan nafsu meniru.
b.      Dorongan Rohaniah :
·         Dorongan keamanan.
·         Dorongan menonjolkan diri.
·         Dorongan ingin tahu.
·         Dorongan keindahan.
·         Dorongan kebaikan.
·         Dorongan kebebasan.
·         Dorongan bekerja.
2.    Keinginan
Keinginan ialah dorongan nafsu yang tertuju pada suatu benda tertentu, atau yang kongkrit, keinginan yang dipraktekkan bisa menjadi kebiasaan. Misal nafsu makan menimbulkan keinginan untuk makan sesuatu. Sedangkan kebiasaan adalah gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya.
3.      Hasrat
Hasrat ialah suatu keinginan tertentu yang dapat diulang-ulang. Adapun ciri-ciri  Hasrat adalah sebagai berikut :
·      Hasrat merupakan “motor” penggerak perbuatan dan kelakuan manusia.
·      Hasrat berhubungan erat dengan tujuan tertentu, baik positif maupun negatif. Positif berarti mencapai barang sesuatu yang dianggap berharga atau berguna baginya. Sedang negatif berarti menghindari sesuatu yang dianggap tidak mempunyai harga/guna baginya.
·      Hasrat selamanya tidak terpisah dari gejala mengenal (kognisi) dan perasaan (emosi). Dengan kata lain : hasrat tidak dapat dipisah-pisahkan dengan pekerjaan jiwa yang lain.
·      Hasrat di arahkan kepada penyelenggaraan suatu tujuan
4.      Kecenderungan, hasrat yang aktif yang menyuruh manusia agar lekas bertindak. Keinginan-keinginan yang sering muncul atau timbul disebut: kecenderungan, Kecenderungan sama dengan kecondongan. Kecenderungan dapat menimbulkan dasar kegemaran terhadap sesuatu.
Kecenderungan dapat dibedakan menjadi beberapa golongan:
a.    Kecenderungan vital (hayat), misalnya: lahap, gemar, makan, gemar minuman keras dan sebagainya.
b.    Kecenderungan perseorangan, menimbulkan sifat-sifat loba, tamak, kikir, egoistis.
c.    Kecenderungan sosial, misalnya: persahabatan, persaudaraan, berbuat amal dan sebagainya.
d.   Kecenderungan abstrak, yang positif misalnya: taat pada Tuhan, jujur, patuh, bertanggung jawab, dan sebagainya sedangkan yang negatif misalnya: dusta, bohong dan sebagainya.
5.      Nafsu & Hawa Nafsu.
Nafsu adalah dorongan yang terdapat pada tiap-tiap manusia dan memberi kekuatan bertindak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup tertentu. Nafsu terdiri atas 2 jenis yaitu :
·      Nafsu Individual (perseorangan), misalnya nafsu makan, nafsu bermain, nafsu bertindaknafsu merusak, nafsu berkelahi, nafsu berkuasa dan sebagainya.
·      Nafsu Sosial (kemasyarakatan), misalnya: nafsu meniru, nafsu kawin, nafsu berkumpul dengan orang lain, nafsu berserikat, nafsu melindungi, nafsu mempertahankan diri, nafsu mencari ilmu, nafsu bersujud kepada Tuhan
Sedangkan hawa nafsu adalah kenderungan atau keinginan sangat kuat dan mendesak yang sedikit banyak mempengaruhi jiwa seseorang disebut hawa nafsu. Dengan timbulnya hawa nafsu seakan-akan keinginan-kainginan yang lain dikesampingkan, sehingga tinggal satu keinginan saja yang berkuasa dan bergerak dalam kesadaran. Disamping itu hawa nafsu dicirikan dengan:
a.    Perasaan sangat terpengaruh dan daya berfikir dapat dilumpuhkan.
b.    Biasanya hawa nafsu disertai timbulnya kekuatan-kekuatan yang hebat.
Akibat timbulnya hawa nafsu tersebut hidup jasmani dan rohaninya menjadi kacau dan terganggu. Hawa nafsu yang banyak muncul antara lain: judi, birahi, nonton, minuman keras dan sebagainya.
C.      Hadits Tentang Kemauan
Telah jelas mengenai pengertian pendidikan kemauan diatas, sesungguhnya pengertian dari kemauan adalah sebuah keinginan dari dalam hati sendiri. Dalam agama Islam telah dijelaskan segala amal perbuatan itu tergantung niatnya. Termasuk dalam mencari ilmu itu adalah atas dasar niat dan keinginan yang kuat dari anak didik. Maka dalam makalah ini kita akan membahas hadits tentang niat.
(( إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ))  [رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري و ابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)[5]
Faedah Hadits:
1.      Tidak akan pernah ada amal perbuatan kecuali disertai dengan niat.
2.      Amal perbuatan tergantung niatnya.
3.      Pahala seseorang yang mengerjakan suatu amal perbuatan sesuai dengan niatnya.
4.      Seorang ‘alim (guru, ustadz atau pendidik) diperbolehkan memberikan contoh dalam menerangkan dan menjelaskan.
5.      Keutamaan hijrah, karena Rasulullah saw menjadikannya sebagai contoh permisalan.
6.      Seseorang akan mendapatkan pahala kebaikan, atau dosa, atau terjerumus dalam perbuatan haram dikarenakan niatnya.
7.      Suatu amal perbuatan tergantung wasilahnya. Maka sesuatu yang mubah dapat menjadi suatu bentuk ketaatan dikarenakan niat seseorang ketika mengerjakannya adalah untuk memperoleh kebaikan, seperti ketika makan dan minum, apabila diniatkan untuk menyemangatkan diri dalam ketaatan.
8.      Suatu amal perbuatan dapat menjadi kebaikan yang berpahala bagi seseorang, namun dapat pula menjadi dosa yang diharamkan bagi seseorang yang lain, adalah sesuai dengan niatnya.[6]
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
2.    Kemauan disamakan dengan kehendak dan hasrat, ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu yang  merupakan kekuatan dari dalam dan tampak dari luar sebagai gerak-gerik.
3.    Kemaun dalam Islam disamakan dengan niat melakukan sesuatu dari dalam lubuk hati sendiri tanpa adanya paksaan dari siapapun.
4.    Pendidikan Kemauan Ialah Memberikan sebuah motivasi untuk mencapai tujuan.
5.    Gejala kemauan dibagi atas; Dorongan, Keinginan, Hasrat, Kecenderungan  dan Hawa Nafsu.
6.    Tidak akan pernah ada amal perbuatan kecuali disertai dengan niat.
B.     Penutup
Demikian makalah hadits tentang pendidikan kemauan kami susun. Kami menyadari isi dari makalah ini jauh dari kesempurnaan, dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang kami miliki. Serta terbatasnya sumber yang pemakalah peroleh. Kritik dan saran kami harapkan dari pembaca Serta demi tercapainya ilmu yang lebih baik. Amin
Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca serta bermanfaat bagi pemakalah. Apabila ada kata yang kurang berkenan di hati pembaca kami segenap pemakalah mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikianlah tugas makalah Toko Blog mengenai pengertian pendidikan kemauan, minat dan niat serta hadits tentang pendidikan kemauan yang diriwayatkan oleh Hadits shahih al-Bukhori dan Muslim  semoga bisa dijadikan referensi yang bermanfaat buat sahabatToko Blog. Jika memerlukan contoh artikel atau Tugas Skripsi bisa bacadisini.



Bottom of Form


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan