Selasa, 08 November 2011

ADAB BERCANDA

ADAB BERCANDA
============ =

Mungkin kita pernah mendengar seseorang berkata "Jenggotmu makin
panjang aja, kayak embek" atau ketika ada akhwat bercadar lewat
dikatakan "Awas…awas…ada ninja lewat" dengan nada bercanda. Atau
perkataan seperti "Eh gua dulu dong, yang tampangnya jelek belakangan"
kepada teman kuliah saat sedang antri bayar SPP. Atau kadang kita
bercanda "Eh, naik mobil gua yuk, tapi mobilnya masih di toko".
Terdengar biasa saja?

Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya dituntut untuk bisa
berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena manusia tidak bisa hidup
sendiri, melainkan butuh orang lain dalam memenuhi hajat-hajat
hidupnya. Untuk bisa melahirkan seorang manusia saja, seorang ibu
butuh seorang suami. Saat lahir pun akan membutuhkan bantuan dari
bidan atau dokter. Dan seterusnya sampai kita dewasa pasti akan
membutuhkan peran orang lain dalam hidup kita.

Maka, seorang manusia sejatinya harus bisa berinteraksi dengan manusia
yang lain dengan baik. Membangun keakraban, membangun suasana
kekeluargaan, menjalin persahabatan. Rasulullah pun memerintahkan kita
untuk menjadi orang yang suka bergaul di masyarakat dengan baik :

"Mukmin yang bergaul ditengah-tengah masyarakat dan bersabar atas
gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan
tidak bersabar dengan gangguan orang" (HR. Ahmad, dihasankan oleh
Al-Hafidz dalam Al-Fath)

Dalam bergaul, kadang diperlukan bumbu-bumbu agar muamalah tidak
membosankan, tidak kaku dan supaya mudah tercipta keakraban.
Bumbu-bumbu tersebut kadang berupa candaan. Bisa berupa plesetan,
humor, tingkah yang lucu, sindiran dan segala macam bentuk canda yang
bisa mencairkan suasana. Tentu saja hal ini adalah perkara mubah,
boleh-boleh saja.

Bahkan Rasulullah pun suka bercanda. Anas ra. Meriwayatkan bahwa
pernah ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah agar membawanya
di atas kendaraan. Kemudian Rasulullah berkata: "Aku akan membawamu di
atas anak unta". Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor
unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian Rasulullah berkata: "Bukankan
yang melahirkan anak unta itu anak unta juga?" (HR.Abu Dawud dan
Tirmidzi dengan sanad yang shahih)

Namun seringkali dalam kenyataannya, banyak sekali candaan-candaan
yang melewati batas dan tidak sesuai dengan akhlak Islami yang hanif.
Seringkali candaan mengandung unsur kebohongan, mengolok-olok ajaran
agama, menyakiti perasaan teman, tertawa berlebihan dan
kebatilan-kebatilan lain. Seringkali candaan jadi apologi seseorang
untuk berbuat buruk. Misalnya ia mencela seseorang kemudianketika
orang tersebut tersinggung pencela tadi berdalih "Saya khan cuma
bercanda". Sungguh ini sebuah kezhaliman. Padahal Rasulullah sendiri
dalam bercanda pun tetap tidak keluar dari batasan-batasan akhlak Islami.

Dari Abu Hurairah ia berkata, "Ya Rasulullah, sungguh engkau sering
bergurau dengan kami". Kemudian Rasulullah berkata "Tapi, sungguh aku
tidak mengatakan kecuali kebenaran". (HR Tirmidzi, Hadist hasan). Maka
bercanda pun ada adabnya.

1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya,
Sunnah Rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam.

Di zaman Rasulullah pernah ada beberapa orang dari kaum Muslimin yang
bercanda dengan berkata bahwa tidak ada orang yang lebih penakut dan
berperut buncit seperti para penghafal Qur'an itu (Rasulullah dan para
sahabat). Kemudian ada sahabat yang mendengarkan hal tersebut kemudian
dilaporkan kepada Rasulullah. Kemudian turunlah ayat:
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka
lakukan), tentulah mereka menjawab: "Sesungguh-nya kami hanyalah
bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan
Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? ". Tidak
usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman". (At-Taubah:
65-66).

Rasulullah pun tidak mema'afkan mereka walau mereka berdalh hanya
bercanda saja. Karena ajaran agama ini adalah ajaran yang suci yang
turun dari Allah, sekecil apapun itu. Maka barang siapa menghina
ajaran ini, sama saja dengan menghina Allah SWT dan Rasul-Nya.
Misalnya orang yg menghina seseorang yang memanjangkan jenggotnya
karena mengikuti sunnah dengan berkata "Jenggotmu panjang sekali,
mirip embek(kambing) ". Maka sama saja ia mencela orang yang telah
mencontohkan hal tersebut, yaitu Rasulullah SAW. Hal-hal lain yang
sering dicela dalam candaan misalnya:
* Akhwat yang memakai cadar
* Hadist tentang adanya syetan menjadi pihak ketiga bila seorang
laki-laki berduaan dengan wanita non-muhrim. Mereka (orang-orang
jahil) mengatakan bila ada temannya yang datang mengganggu aktifitas
khalwat mereka, maka dialah syaitannya. Sungguh ini candaan yang bathil.
* Ikhwan yang meninggikan pakaiannya di atas mata kaki.
* Ucapan salam "Assalamu'alaikum" yang sering dibuat-buat supaya
terdengar lucu.
* Dll

2. Hendaknya percandaan itu tidak mengandung dusta.

Hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan atau
berbohong supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
Salam bersabda:
"Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya
orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah". (HR.
Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

3. Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan
salah seorang di antara manusia.

Mencela atau menyakiti perasaan tidak dihalalkan diantara sesama
mukmin. Hendaknya setiap orang menjaga perasaan saudaranya dalam
setiap keadaan, baik bercanda ataupun bukan. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela sebagian yang
lain, karena boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela"
(Al-Hujurat : 11)

Misalnya dengan berkata "Yang bertampang jelek minggir dulu" atau "Hei
hitam, kalau malam jangan keluar rumah, nanti tidak terlihat".
Sekalipun hanya dalam candaan, celaan tetap akan menyakiti hati dan
berbekas dihati.

Lebih khusus mengenai ini Rasulullah memperingati: "Janganlah seorang
di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau
sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia
harus mengembalikannya kepadanya". (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai
hasan oleh Al-Albani). Hadist ini mengingatkan bahwa dilarang berbuat
zhalim dalam bercanda, apakah itu mengambil barang, menyakiti hati,
menyakiti fisik atau semacamnya.

4. Bercanda tidak dengan semua orang.

Maksudnya, dalam bercanda harus pilih-pilih. Tidak semua orang suka
dibercandai dan bercanda bisa saja menimbulkan mudharat (keburukan)
bila dilakukan dengan orang-orang tertentu, misalnya wanita yang bukan
mahram. Bercanda berlebihan dengan wanita non-muhrim akan menimbulkan
fitnah. Maka sebaiknya dibatasi kadar dan intensitasnya. Begitu pula
kepada orang yang lebih tua, tentunya sikap yang utama adalah santun
dan berlemah lembut. Adapun bila ingin bercanda perlu disesuaikan
jenis candaannya agar tidak mengurangi rasa hormat kita.

5. Tidak bergaya menyerupai wanita (atau laki-laki).

Seringkali untuk membuat orang tertawa, seorang laki-laki bergaya
seperti wanita. Baik pakaian, cara berjalan, atau cara bicaranya. Dari
Ibnu Abbas ra. Ia berkata "Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang
menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai
laki-laki". (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi, hadist shahih).
Sungguh aneh, saat zaman dahulu di negeri kita ini banci atau bencong
menjadi hal yang tabu, namun di masa ini malah menjadi hal yang biasa
saja dan malah jadi bahan candaan. Padahal hal tersebut mendapat
laknat Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah akhlak seorang muslim yang hanif. Tidaklah melakukan
sesuatu melainkan itu sebuah kebaikan, baik dalam bekerja, melihat,
mendengar juga dalam berbicara. Sesuai dengan sabda Rasulullah:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah
yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim). Cuma ada 2 pilihan,
berkata yang baik, kalau tidak bisa maka diamlah.

Para ulama yang shalih menganjurkan agar tidak memperbanyak canda dan
tidak berlebihan dengannya. Baik dalam bermuamalah, dalam menuntut
ilmu apalagi dalam berdakwah. Karena seseunggunnya hal tersebut dapat
menjatuhkan wibawa, menjauhkan diri dari hikmah, menimbulkan
kedengkian, mengeraskan hati dan membuat banyak tertawa yang
melalaikan diri dari mengingat Allah.

(Diambil dari Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh
Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan
Muslim Sehari-hari dengan penambahan)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan