Rabu, 26 Oktober 2011

SHOLAT SELAMA PERJALANAN (PRAYER DURING TRAVEL)


PRAYER DURING TRAVEL
            The five daily prayers in islam should be offered at a certain time when a muslim is at home or is not travelling. However, some times it is necessary to travel from place to place or from one country to another. During the travel perhaps there are no facilities for preparing oneself for prayer, or the timing of the travel will interfere with the proper performance of prayer.
            Islam, therefore, allows a Muslim, when travelling from one place to another, two join to prayers together at one time, such as Zuhur and ‘Asr at the time Zuhur or ‘Asr. But if a Muslim decides to join two prayers together at the latter time, he should have the intention during the time of the first prayer of joining the two prayers latter.   
            The same permission is also given to Muslim to join the sunset and the night prayers whilst travelling. A Muslim has the right to join the two prayers together either at the time of the beginning of the firs prayer or the time of the latter. But there are some conditions wich must be fulfilled, i.e. the travelling must be of a certain length and must have a worthy purpose.
            In another to make it simpler for a Muslim to perform his prayer duties, it is permission to offer Zuhur and ‘Asr, each of two raka’ats instead of four, and also the night prayer, ‘Isha’. There are the ordinary cases in which islam allows us to shorten prayers and join them together. But in some other cases permission is also given to join two prayers together, such as illness or when heavy rain prevents people from getting to the mosque as usual, or when there is excessive heat. There are sufficient reasons.
            The previous permission to join prayers together and to shorten them has been taken from the verse of the Qur’an which says: “ when you travel throughout the world, there is no blame attached had to you if you shorten your prayer for fear that the unbeliever may attack you, for the unbeliever are born enemies into you”.
            According to this verse, it seems that, if there is no fear during the travel, there is no need to shorten the prayer; and this was commented upon by Omar, the second Caliph, who was asked why God gave us permission to shorten and join together prayers. Omar replied that he too had wondered the same thing and said: “then I mentioned this to the prophet (peace be upon him!), his answer was that this must be considered as one of the mercies of God: we have to accept it”.
       
     SHOLAT SELAMA PERJALANAN
Sholat lima waktu dalam islam harus dipanjatkan pada waktu yang tertentu ketika seorang muslim sedan berada di rumah atau tidak sedang melakukan perjalanan. Bagaimanapun juga, terkadang sholat itu perlu untuk perjalanan dari satu tempat k tempat yang lainatau dari suatu Negara ke Negara yang lain. Selama perjalanan mungkin tidak ada kemudahan dalam mempersiapkan diri untuk melakukan sholat, atau waktu perjalanan akan mencampuri kekhusu’an sholatnya.
Islam, bahkan memperbolehkan seorang Muslim ketika sedang melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain, untuk menggabungkan (menjama’) dua shalat secara bersama pada satu waktu. Seperti Zuhur dan Asar di gabung pada waktu Zuhur atau Asar. Tetapi jika seorang muslim memutuskan untuk menggabungkan (menjama’) dua shalat secara bersama pada waktu yang terakhir, maka dia harus mempunyai niat selama waktu shalat yang pertama untuk menggabungkan (menjama’) dua shalat yang terakhir.
Kewenangan yang sama juga diberikan kepada seorang Muslim untuk menggabungkan (menjama’) Maghrib dengan isya’ ketika dalam perjalanan. Seorang Muslim boleh menggabungkan dua shalat pada waktu shalat yang yang pertama atau shalat yang terakhir (jama’ taqdim atau ta’khir). Tetapi ada beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi. Perjalanannya harus menempuh jarak yang panjang dan harus mempunyai tujuan yang berfaidah.
Supaya membuat shalat menjadi mudah untuk seorang Muslimdalam menjalankan ibadah Shalatnya, Itu diperboleh menqashar Zuhur dan Asar, masing-masing dua raka’at dari empat raka’at. Begitu juga shalat Isya’, ini semua adalah kejadian biasa yang mana Islam memperbolehkan kita untuk menqashar shalat dan menggabunngkannya (menjama’) bersama. Dlam beberapa peristiwa yang lain juga diperbolehkan untuk menggabungkan dua shalat bersama, seperti keadaan sakit, atau ketika hujan lebat sebelum orang-orang sampai ke sebuah Mushalla seperti biasanya, atau ketika panas tinggi, ini beberapa alasan yang mencukupi.
Kewenangan sebelumnya untuk menggabungkan beberapa shalat bersama dan menqasharnya telah diambil dari ayat suci Al-Qur’an yang mengatakan: Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Bersumber dari ayat tersebut, tampak bahwa: jika tidak ada kekhawatiran selama perjalanan, maka tidak memerlukan untuk menqashar shalat. Dan hal inni telah diriwayatkan oleh Umar khalifah kedua yang mana telah bertanya kenapa Allah telah memberi kita kewenangan untuk menqashar dan menjama’ shalat bersama. Umar telah menjawab bahwa dia juga heran dengan hal yan sama dan berkata: “ Kemudian aku telah sebutkan hal ini kepada Nabi SAW., jawaban beliau bahwa ini harus dianggap sebagai salah satu dari kemmuraha Allah: kita harus menerimanya.   
             

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan