Senin, 15 Agustus 2011

KRITIK MATAN HADITS

A.    Pengertian sanad, matan dan perawi
1.    Pengertian sanad
Kata “sanad” menurut bahasa adalah sandaran, tau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Dikatakan demikian, karena hadis bersandar kepadanya. Sedangkan sanad menurut istilah ialah jalan yang dapat menghbungkan matan hadis kepada Nabi Muhammad SAW. Namun para ulama’ hadis berbeda pendapat dengan istilah sanad ini, diantaranya:
•    As suyuti dalam bukunya tadrib Ar Rawi, hal 41, menulis:
الإخبارعن طريق المتن                                                                                                
“berita tentang jalan matan”
•    Mahmud at Tahhan, menulis tentang sanad:
سلسلة الرجال الموصلة للمتن                                                                             
“silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadis) yang menyampaikannya pada matan hadis”
•    Ajjaj al khattib, dalam buku Ushul al Hadis menulis:     
سلسلة الرواةالذين نعلوا المتن عن مصدره الاول
“silsilah para perawi yang menukilkan hadis dari sumbernya yang pertama”.
Yang berkaitan dengan istilah sanad terdapat kata-kata seperti al-isnad, al-musnid, al-musnad.
Isnad menurut bahasa artinya menyadarkan, mengasalkan (mengembalikan ke asal) dan mengangkat. Sedangkan menurut istilah adalah menerangkan sanad hadis (jalan menerims hadis).
Al-musnid adalah orang yang menerangkan hadis dengan menyebut sanadnya. Sedangkan musnad merupakan hadis yang disebut dengan diterangkan sanadnya yang sampai kepada nabi.
2.    Pengertian matan
Kata matan atau al-matn menurut bahasa berati ma irtafa’a min al-ardhi (tanah yang meninggi). Sedangkan menurut istilah adalah
ما ينتهى إليه السّند من                                                                                                   
“suatu kalimat tempat berakhirnya sanad”
Atau dengan redaksi lain menurut Ajjaj al Khatib:
الفاظ الحديث التى تتقوم بها معا نى                                                                                        
“lafadh-lafadh hadis yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu”.
Adapun menurut Ibnu jama’ah,
ما ينتهى إليه السند (غا ية السند)                                                                                   
“sesuatu yang kepadanya berakhir sanad (perkataan yang disebut uuntuk mengakhiri sanad”.
Dari semua pengertian di atas, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan matan ialah materi atau lafadh hadis itu sendiri.
3.    Pengertian perawi
Kata rawi atau al-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberitakan hadis. Sebenarnya antara sanad dan rawi merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadis pada tiap thabaqohnya disebut juga rawi. Jika yang disebut rawi adalah orng yang meriwayatkan dan memindahkan hadis.tetapi yang membedakan antara rawi dengan sanad terletak pada pembukan datau pentadwinan hadis. Orang yang menerima disebut perawi. Dengan demikian, maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan atau menghimpun hadis).
B.    Kritik Hadis
Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani krites yang artinya “seorang hakim, krinein  berarti “menghakimi”, kriterion berarti  “dasar penghakiman”.  Dalam  konteks tulisan ini  kata “kritik” dipakai untuk menunjuk kepada kata an-naqd dalam studi hadis. Dalam literatur Arab kata “an-naqd” dipakai untuk arti “kritik”, atau  “memisahkan yang baik dari yang buruk.
Kritik hadis berkaitan dengan upaya menyeleksi (membedakan) antara hadis shahih dan dhaif dan menetapkan status perawi-perawinya dari segi kepercayaan atau cacat.  Menurut Muhammad Tahir al-Jawaby sebagaimana dikutip Ah. Fudhaily adalah :
“Ilmu kritik hadis adalah ketentuan terhadap para periwayat hadis baik kecacatan atau keadilannya dengan menggunakan ungkapan-ungkapan tertentu yang dikenal oleh ulama-ulama hadis. Kemudian meneliti matn hadis yang telah dinyatakan sahih dari aspek sanad untuk menetukan keabsahan atau ke-dhaifan matn hadis tersebut, mengatasi kesulitan pemahaman dari hadis yang telah dinyatakan sahih, mengatasi kontradisi pemahaman hadis dengan pertimbangan yang mendalam”.
 Hal yang dikaji dalam kritik hadis mencakup kritik sanad, matan dan perawi hadis.
1.    Kritik Sanad
a)    Kritik  sanad  adalah  suatu  penyeleksian  yang  ditekankan  dan dimaksudkan  pada  aspek  sanadnya. Sehingga  menghasilkan  istilah  Sahih  al-isnad dan Dha’if  al-isnad.
1. Shahih al-isnad  ialah  seluruh  jajaran  perawi  dalam  suatu  hadis  berkualitas  sahih, di samping  juga adanya  kebersambungan  sanad, serta terbebas dari  kerancuan (syadz) dan cacat(‘illat).
2. Sedangkan  Dha’if  al-Isnad  adalah  salah  satu  atau  beberapa  jajaran  periwayatnya berkualitas  dha’if  atau  bisa  jadi  karena  tidak  memenuhi  criteria  kesahihan isinya. Dengan demikian , bukan  berarti  bahwa  hadis  yang  telah  diberi  level  sahih  al-isnad  itu  layak  disandingi  sahih  al-matan , atau  sebaliknya  hadis  yang  telah  dinilai  dha’ if  al-isnad  juga berarti  dha’if  al-matan.
Terdapat  beberapa  istilah  yang  secara  umum  telah  dikenal  dalam  dunia  ilmu  hadis  yang lahir  dari  masdar  سند  yakni  kata  اسند  dan  مسند , Dalam diskursus sanad ini terdapat beberapa dialektika  yang  digulirkan  oleh  para  ulama, di antaranya  adalah  al-Qasimi  menyatakan bahwa  sanad  dipahami  sebagai  penjelasan  tentang  suatu  jalan  yang  dapat  menyampaikan kepada  kita  materi  hadis. Dengan  demikian,  sanad  merupakan  serangkaian  perawi  yang mentransmisikan  hadis  dari  Rasullah  sampai  kepada  mukharrij  al-hadiih. Adapun  kata musnad  mengandung  beberapa  makna  yang  relative  lebih  luas  cakupannya,  yakni:
1. Musnad  adalah  hadis  yang  bersambung  sanadnya  dari  pertama  hingga  terakhir  dan  disandarkan  kepada  Rasullah.
2. Musnad  dipahami  sebagai  sebutan  sebuah  kitab  hadis  yang  disusun   berdasarkan  nama sahabat.
3. Musnad  juga  sering  disamakan  maknanya  dengan  isnad,  yang  berarti  dianggap  ber-sighot  mashdar.
Dalam  konteks  diatas  bisa  disimpulkan  bahwa  sanad  dipahami  dalam  arti  sebagai penjelasan  tentang  suatu  jalan  yang  dapat  menyampaikan  kepada  kita  materi  hadis  ( al-ikhbar ‘an  tariq  al-matn  atau  tariq matn al-hadith).
b)    Kemunculan  dan  perkembangan  Kritik  Sanad  Hadis: Survei  History
a. Kritik  Hadis  di  Masa  Rasullah
Pada  masa  Rasulullah  kritik  hadis  dilaksanakan  dengan  cara  sederhana  yakni  dengan langkah  konfirmasi  belaka  karena  kondisi  yang  memungkinkan  untuk  proses  konfirmasi, era  ini  sumber  asli  dari  seluruh  sandaran  hadis  masih  hidup,  yakni  Rasullah  sendiri.
b. Kritik  Hadis  di  Era  Sahabat  dan  Sahabat  kecil (Shighar al-Shahabar)
Pada  era  ini  kritik  hadis  dilakukan  dengan  tampilan  yang  bersifat  komparatif  seperti contoh  kasus  peristiwa  yang  terjadi  di saat  seorang  nenek-nenek  datang  kepada  Abu  Bakar  untuk  mempermasalhkan  warisan  dari  harta  yang  ditinggalkan  cucunya.  Menanggapi hal  tersebut  Abu  Bakar  berkomentar  bahwa  d ia  tidak  pernah  menemukan  ketentuan tersebut  dalam  Al-Qur’an,  sementara  dia  juga  tidak  pernah  mendengar  hadis  Rasullah tentang  hal  tersebut. Untuk  mencari  solusi  dari  masalah  tersebut , selanjutnya  Abu  Bakar mempertanyakan  kepada  para  sahabat  lainnya.  Di saat  itulah  tampil  Mughirah  dengan mengatakan  bahwa  bagian  nenek  atas  warisan  cucunya  adalah 1/6.  Mendengar  hal  tersebut Abu  Bakar  tidak  serta  merta  percaya  kepada  Mughirah. Beliau  kemudian  mengajukan persyaratan  adanya  saksi  yang  dapat  mendukung  kebenaran  ucapan  Mughirah  tersebut. Disaat itulah Muhammad ibn Maslamah memberikan kesaksiannya. Berkat kesaksian tersebut Abu  Bakar  menerima  riwayat  tersebut.
c.  Kritik  Hadis  Era  Tabi’in  dan  ‘Atba  al-Tabi’in  hingga  kodifikasi  Hadis (Ahad II-III H.)
Seiring  dengan  perjalanan  sejarah  hadis  yang  semakin  goyah  oleh  manipulasi  hadis menuntut  para   ulama’ untuk  lebih  bersikap  ekstra  ketat  dalam  melakukan  kritik hadis. Jika pada  tahap  sebelumnya  upaya  kritik  tersebut  hanya  dilakukan  oleh  para  ulama’  dilingkup satu  daerah  saja,  maka  pada  era  tersebut  perjalaan  (rihlah)  ilmiah  ke  berbagai  pelosok daerah  intensif  dilakukan.  Sebagai  konsekuensi  dari  rihlah  yang  demikian  ini,  kemudian bermunculan  beberapa  kegiatan  kritik  dengan  tokoh-tokoh   kritikus  termashur  yang memotorinya.  Adapun  pusat  aktivitas  kritik  dan  tokoh   kritikus  adalah  sebagai  berikut :
1.    Kuffah  dengan  tokohnya  Suffyan  al-Thauri (97-161 H), Walid  ibn  al-Jarrrah  (wafat 196 H)
2.    Madinah  dengan  tokohnya  Malik  ibn  Anas (93-179 H)
3.    Beirut  dengan  tokohnya  al- Awza’  (88-158 H)
4.    Wasith  denga n  tokohnya  Syu’bah (83-100 H)
5.    Basrah  dengan  tokohnya  Hammad  ibn  Sallamah  (wafat 167 H),  Hammad  ibn  Zaid (wafat 179 H),  Yahya  ibn  Sa’id  al-Qattan  (wafat 198 H)  dan  Abd  al-Rahman  ibn Mahdi  (wafat 198 H)
6.    Dll.
c)    Kaedah   kesahihan  Sanad  Hadis  sebagai  Standarisasi  Kritik
Dalam  penilitian  atau  kritik  hadis  diorientasikan  kepada  hadis  yang  tergolong  pada klasifikasi  ahad  dan  tidak  pada  yang  mutawatir  Karena  hadis  mutawatir  itu  telah memberikan  akurasi  yang  pasti  (yufid al-qath).  Mengingat  jumlah  hadis  ahad  lebih  banyak dari  pada  hadis  mutawatir  sehingga  perlunya  adanya  pembuktian  ke valid  atau  tidak validnya  suatu  hadis.  Sehingga  muncullah  3  kategori  hadis  ahad  yakni  sahih, hasan dan dha’if  yang  awalnya  hanya  memiliki  2  klasifikasi  yaitu  sahih  dan  dha’if.
 a.  Aspek  kebersambungan  Sanad
Dalam  konsep  kebersambungan  Sanad  para  ulama  memiliki  pandangan  yang  berbeda-beda seperti  yang  digulirkan  oleh  al-Bukhori  yakni  sanad  baru  diklaim  bersambung  apabila memenuhi  2  kriteria  yakni  al-Liqa’  dan  al-Mu’asharah.
1. Al-Liqa’  yaitu  adanya  pertautan  langsung  antara  satu  perawi  dengan  perawi  berikutnya, yang  ditandai  dengan  adanya  sebuah  aksi  pertemuan  antara  murid  yang  mendengar  secara langsung  suatu  hadis  dari  gurunya.
2. Dan  al-Mu’asharah  bahwa  sanad  diklaim  berhubungan  apabila  terjadi  persamaan  masa hidup  antara  guru  dengan  muridnya.
Sedangkan  bagi  muslim, hal  tersebut  agak  memperlonggar  persyaratan  ittishal  sanad  tersebut.  Bagi  muslim  sebuah  sanad  dikatakan  telah  bersambung  apabila  antara satu  perawi dengan  perawi  yang  berikutnya  beg itu  seterusnya  adanya  kemungkinan  bertemu  karena keduanya  hidup  dalam  kurun  waktu  yang  sama  sementara  tempat  tinggal  mereka  tidaklah terlalu  jauh  bila  diukur  dengan  kondisi  saat  ini.  Sehingga  Muslim  menekankan  ittishal hadis  hanya  pada  aspek  al-mu’ashahah.
2.    kritik matan hadis
Istilah kritik matan hadis, dipahami sebagai upaya pengujian atas keabsahan matan hadis yang dilakukan untuk memisahkan antara matan-matan hadis yang shahih dan tidak shahih. Dengan demikian, kritik matan tersebut, bukan dimaksudkan untuk mengoreksi atau menggoyahkan dasar ajaran Islam dengan mencari kelemahan sabda Rasulullah, akan tetapi diarahkan pada telaah redaksi dan makna guna menetapkan keabsahan suatu hadis. Karena itu kritik matan merupakan upaya positif dalam rangka menjaga kemurnian matan hadis, disamping juga untuk mengantarkan kepada pemahaman yang lebih tepat terhadap hadis Rasulullah.
1.    Kemunculan dan perkembangan kritik matan hadis: Survei Historis
Analisis mengenai awal kemunculan dan perkembangan kritik matan hadis bukan merupakan hal baru. Secara praktis, aktifitas kritik matan ini tlah dilakukan oleh generasi sahabat. Mereka menolak brbagai riwayat hadis yang tidak sesuai dengan kaedah-kaedah dasar keagamaan. Sebagai contoh misalnya dapat disimak reaksi ‘Aisyah tatkala mendengar sebuah hadis yang disampaikan oleh Ibn ‘Abbas dari Umar, bahwa menurut versi Umar Rasulullah bersabda:
ان الميت ليعذب ببكاءاهله عليه                                        
“mayat itu akan disiksa karena ditangisi keluarganya“, serta merta ‘Aisyah membantahnya dengan berkata: “semoga Umar dirahmati Allah, Rasulullah tidak pernah bersabda bahwa mayat orang mukmin itu akan disiksa karena ditangisi keluarganya, tetapi beliau bersabda:
إنّ الله يزيدالكافرعذاباببكاءأله عليه                                   
“sesungguhnya Allah akan menambah siksa orang kafir karena ditangisi keluarganya”. Komentar ‘Aisyah selanjutnya, cukuplah bagi kalian sebuah ayat yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan pernah menanggung dosa orang lain.
Menyimak kasus diatas, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kritik matan hadis telah di lakukan diera sahabat. Dasar-dasar kritik matan yang telah dibangun oleh sahabat, pada tahap berikutnya dikembangkan oleh generasi tabi’in. Ayyub al- Sakhtiyani (tabi’in) misalnya, mengatakan:” jika engkau ingin mengetahui kesalahan gurumu, maka duduklah engkau (baca: belajarlah hadits) kepada selainnya”. Maksud ungkapan tersebut bahwa untuk mengetahui kesalahan-kesalahan hadis haruslah dengan melakukan kritik, yang antara lain dilakukan dengan mempelajari hadis secara mendalam melalui perawi yang lain.
Jika diera sahabat dan tabi’in kritik matan masih dalam bentuk yang sangat sederhana, maka pada era atba’ al-tabi’in kritik matan mulai menemukan model baru yang lebih sempurna. Kesempurnaan bentuk kritik matan di era ini, dapat ditunjukkan dengan adanya upaya yang dilakukan para ulama untuk mulai menspesialisasikan dirinya sebagai kritikus hadis, seperti Malik, al-Thauri dan Syu’bah. Namun perlu dipertegas bahwa munculnya para kritikus tersebut bukan berarti mereka hanya memperhatikan aspek matan, tetapi mereka juga mengkaji aspek sanad dan matan sekaligus,
Dari hasil kajian dan kritikus ulama pada periode ini, dapat dirumuskan pedoman dalam kegiatan penelitian hadis selanjutnya. Rumusan-rumusan tersebut adalah :
1.    Memberikan  ta’rif   sahih, yakni hadis dan sanadnya bersambung, diambil dari rawi yang adil dan dhabit, serta terbebas dari syadz dan illat. Terbebas dari syadz dan illat itu merupakan cakupan kritik matan, sebagai mana juga dipahami semakna dengan kritik sanadnya. Karena syadz dan illat itu dismping terjadi sanad hadis, juga terdapat pada matannya.
2.    Menetapkan persyaratan hadis hasan sebagai hadis yang drajat kedhabitan perawinya setingkat dibawah perawi hadis sahih.
3.    Menetapkan hadis-hadis yang tidak memenuhi kriteria sahih atau hasan sebagai hadis dhaif.
4.    Menetapkan kriteria hadis maudhu’, berupa kejanggalan atau ketersalahan yang dapat dijadikan indikasi kemustahilannya bersasal dari Rasulullah.
Menyimak warisan ilmiah para ulama diatas, dapat diambil pemahaman bahwa ilmu hadis yang berkembang hingga sekarang, baik dari sisi sanad maupun matannya merupakan pengembangan dan pelestarian warisan tersebut, kendati pada satu dan beberapa hal tidak jarang terjadi elaborasi-elaborasi dalam rangka mencari titik singgung dan titik beda, bagi pengembangan hadis dan ilmu hadis tersebut.


BAB  III
A.    Simpulan
Dalam pembahasan makalah kami menyimpulkan bahwa unsur-unsur dalam hadis terdiri dari sanad, matan,dan perawi. Untuk menentukan kualitas suatu hadits dikategorikan sahih, hasan, ataupun dhaif. Kita perlu mengkaji sebuah hadits melalui metode kritik sanad dan matan hadits.
B.    Daftar pustaka   
Sumbulah, Umi. 2008. Kritik Hadis. Malang : UIn-Malang Press.
Abbas, Hasjim. 2004. Kritik Matan Hadis. Jogjakarta : Teras.



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan